Protoplasma: Fungsi dan Komponen Penyusun (Lengkap)

Pernahkah Anda mendengar istilah protoplasma? Apa itu protoplasma? Istilah yang dimaksud adalah berkaitan dengan sel, yakni bagian hidup yang dikelilingi oleh membran plasma. Jadi, secara sederhana protoplasma dapat diartikan sebagai komponen hidup dari suatu sel yang diselimuti oleh membran plasma. Protoplasma merupakan bagian sel yang berperan sebagai dasar fisik kehidupan. Pernyataan ini dikemukakan oleh Thomas Huxley. Nah pada kesempatan kali ini, kami akan memberikan kajian tuntas mengenai segala hal yang berhubungan dengan protoplasma.

Protoplasma: Fungsi dan Komponen Penyusun (Lengkap)

Sejarah Protoplasma


Pada tahun 1846, istilah protoplasma untuk pertama kalinya digunakan oleh ilmuwan biologi. Istilah ini dikaitkan dengan salah satu komponen terpenting suatu sel. Protoplasma mengacu kepada suatu zat bening, dengan sifat semi-cairan yang terletak di dalam membran sel dari semua organisme hidup. Pada waktu itu, para ahli sepakat bahwa, sel hanya memiliki satu jenis cairan, dan cairan tersebut bertanggung jawab untuk semua fungsi sel.

Protoplasma: Fungsi dan Komponen Penyusun (Lengkap)

Istilah protoplasma berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos berarti pertama dan plasma berarti hal terbentuk. Istilah ini mula-mula dicetuskan oleh ilmuwan yang bernama Hugo von Mohl untuk memberikan gambaran terdapatnya suatu zat berlendir, granular, semi-fluida, dan tangguh dalam sel tumbuhan. Istilah ini sekaligus berfungsi untuk membedakan zat tersebut dengan komponen sel lainnya, seperti dinding sel, inti sel, dan getah sel dalam vakuola.

Sejak pertama kali ditemukan, komposisi lengkap dari cairan bening tersebut masih misterius. Para ilmuwan hanya mampu menerka-nerka kandungan dari substansi itu. Ada beragam upaya penelitian dengan menciptakan protoplasma sintetik di laboratorium namun tidak pernah berhasil

Seiring berkembangnya peralatan dan teknik pengamatan, konsep awal tentang protoplasma sedikit demi sedikit berhasil terkuak seiring dengan ditemukannya pula kompleksitas yang luar bisa struktur sel. Saat ini, istilah tersebut bukan lagi menunjukkan signifikansi teknis tertentu, melainkan dipakai untuk menjelaskan segala hal yang ada dibalik dinding-dinding sel, termasuk nukleus, sitoplasma, dan organel lainnya.

Kandungan Protoplasma


Protoplasma memiliki dua kandungan utama yang menyusun strukturnya, yaitu kandungan organik dan kandungan anorganik. Di dalam sebuah sel tumbuhan maupun hewan, protoplasma mengandung sekitar 80-85% air, 15-25% protein, 2-3% lipid, 1% karbohidrat, dan 1% komponen anorganik lainnya. Jadi, bisa kita lihat bahwa air adalah komponen penyusun utama protoplasma. Andaikan semua senyawa-senyawa organik komponen penyusun protoplasma itu diuraikan menjadi unsur-unsurnya, maka terdapat oksigen, hidrogen, nitrogen, dan karbon sebagai empat unsur utama yang dimiliki oleh protoplasma.

Hampir 2/3 dari keseluruhan komponen penyusun protoplasma adalah air. Inilah sebabnya mengapa sehingga protoplasma memiliki sifat tidak pekat. Sementara itu, terdapatnya kandungan organik dan anorganik pada protoplasma membuatnya bersifat tidak cair. Sehingga, protoplasma dapat disebut juga memiliki sistem koloid karena sifatnya yang tidak cair dan tidak kental.

Fakta ini juga memunculkan hipotesis bahwa sel dapat hidup karena adanya aktivitas transportasi cairan dari luar yang bersifat encer, masuk ke dalam protoplasma yang bersifat koloid melalui mekanisme osmosis. Jadi, jika terdapat pertanyaan mengapa sehingga protoplasma disebut sistem koloid? Maka jawabannya adalah karena protoplasma memiliki sifat tidak cair dan tidak kental.

Sistem Koloid Protoplasma 


Secara umum, sistem koloid pada protoplasma dapat dijelaskan menggunakan Sachs dalam analisa abu. Berikut ini penjelasannya:
  • Jika semua bahan-bahan senyawa organik protoplasma diuraikan menjadi unsur-unsurnya, maka kita akan melihat adanya unsur oksigen, karbon, hidrogen, dan nitrogen (CHON) sebagai empat unsur utama yang menyusun protoplasma.
  • Sachs pernah melaksanakan sebuah eksperimen menggunakan analisa abu untuk mengetahui berapa persen masing-masing jumlah seluruh unsur penyusun protoplasma. Analisa abu tersebut dilakukan dengan cara membakar organ daun sampai menjadi abu dan menghilangkan dominasi unsur air. Sisa pembakaran itulah (abu) yang dianalisa. Hasilnya adalah dalam tabel berikut:

 kandungan unsur protoplasma

Dari hasil analisis abu yang ditunjukkan tabel di atas, terlihat bahwa protoplasma tidak hanya tersusun atas komponen air, tetapi terdapat sederet senyawa di luar air. Eksperimen yang dilakukan Sachs tersebut dengan cara menghilangkan air sehingga tersisa abu. Setelah dianalisis, abu tersebut mengandung unsur penyusun karbohidrat (CHO), lemak (CHO), dan protein (CHON).

Secara definitif, kandungan protoplasma sudah diketahui dengan baik bahwa protoplasma tersusun atas air dan senyawa non air, baik itu organik (karbohidrat, lemak, protein, asam nuklead) yang jika dilakukan penguraian akan menghasilkan unsur-unsur seperti yang ditunjukkan dalam tabel di atas.

Komponen Penyusun Protoplasma


Kandungan komponen penyusun protoplasma, sebagaimana yang diuraikan pada penjelasan di atas, akan kita pertajam lagi pembahasannya dengan cara mengupas satu per satu seluruh komponen tersebut. Berikut ini pembahasannya:

1. Air pada Protoplasma


Dalam lingkungan sel, komponen air hadir dalam dua bentuk, yaitu bentuk bebas dan bentuk terikat. Air dalam bentuk bebas mencakup total air di dalam sel, yaitu 95%. Sedangkan, air dalam bentuk terikat hanya mencakup 5% saja dari seluruh total air di dalam lingkungan sel. Di dalam sel, air berfungsi sebagai pelarut dan menjadi media untuk dispersi sistem koloid. Kandungan air akan bervariasi pada berbagai jenis sel di antara tipe-tipe sel yang berbeda. 

Misalnya, kandungan air pada hati tikus sebesar 72%, sedangkan pada otot rangka tikus sebesar 76%. Telur bintang laut memiliki kandungan air 77%, E. Coli 73%, dan biji jagung 13%. Perbedaan kandungan tersebut disebabkan oleh perbedaan lingkungan dan perannya. Kandungan air menunjukkan nilai persen dari berat basah total.

Air adalah media tempat terjadinya transpor nutrien, energi kimia, dan reaksi-reaksi enzimatis metabolisme sel. Kebanyakan senyawa biokimia dan sebahagian besar reaksi di dalam sel hidup berlangsung dalam lingkungan cair. Peran aktif air juga terjadi dalam banyak reaksi biokimia dan menjadi penentu penting dari sifat-sifat molekul makro seperti protein. 

Produk air  berupa ion O dan H, sebagai hasil dari ionisasi struktur air akan sangat mempengaruhi macam-macam sifat komponen penting sel seperti protein, enzim, lipida, dan asam nukleat. Contoh paling popular adalah pada aktvitas katalitik enzim sangat dipengaruhi oleh konsentrasi ion H+ dan OH-. Oleh sebab itu, segala aspek dari fungsi dan struktur sel harus menyesuaikan dengan sifat-sifat kimia dan fisik dari air.

Dari penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa air adalah komponen penyusun sel yang paling utama dan memiliki fungsi:
  • Air menjadi bahan baku pada terjadinya reaksi hidrolisis dan sitensis karbohidrat, contohnya pada proses fotosintesis.
  • Air dipakai untuk mengabsorbsi panas dan melakukan pencegahan terhadap perubahan suhu yang mendadak atau drastis di dalam sel.
  • Air adalah medium terjadinya serangkaian reaksi enzimatis yang berlangsung di dalam sel
  • Air adalah medium transpor berbagai jenis zat, baik yang terlarut maupun tersuspensi untuk berdifusi atau bergerak dari satu bagian sel ke bagian sel lainnya.
  • Air melakukan suspense zat-zat organik dengan makro molekul seperti lemak, protein, dan pati. Dalam hal ini, air bertindak sebagai media disperse dari sistem koloid protoplasma.
  • Air menjadi pelarut zat anorganik dan organik, contohnya berbagai jenis vitamin, glukosa, asam amino, sukrosa, serta berbagai jenis ion. 

1.1. Sifat Air 


Jika dibandingkan dengan jenis cairan lainnya, air memiliki titik didih, titik lebur, dan panas penguapan yang lebih tinggi. Fakta ini mengindikasikan bahwa air memiliki gaya tarik molekul-moleku yang kuat dan berdekatan, sehingga memberikan air gaya kohesi internal yang tinggi. Misalnya, panas penguapan air adalah ukuran dari besar energi yang diperlukan oleh air untuk mengatasi gaya tarik-menarik antara molekulnya, sehingga molekul tersebut dapat saling terpisah dan beralih ke fase gas. Panas, titik didih, dan titik lebur pada air dan beberapa pelarut lainnya ditunjukkan dalam tabel berikut ini:

tabel sifat air

Besarnya kekuatan daya tarik antara dua molekul air yang saling berdekatan berasal dari atom hidrogen yang menggunakan sepasang elektron secara bersama-sama dengan atom oksigen. Hal ini mengakibatkan atom pada molekul air berbentuk tetrahedral atau huruf V.

ikatan molekul air


Sisi atom oksigen saling berhadapan dengan dua atom hidrogen yang kaya dengan elektron. Sementara itu, sisi lainnya, yaitu inti hidrogen yang relatif tidak ditutupi akan membentuk daerah dengan muatan positif. Itulah sebabnya mengapa sehingga molekul air disebut bersifat dwikutub atau dipolar karena pemisahan muatan tersebut. Sehingga, dua molekul air akan tertarik satu dengan lainnya karena adanya gaya elektrostatik di antara muatan negatif sebagian atom oksigen dari molekul air dan sebagian muatan positif hidrogen pada molekul air lainnya. Jenis ikatan atau interaksi elektrostatik ini disebut dengan ikatan hidrogen.

Segera terbentuk ikatan hidrogen antara atom yang memiliki sifat elektronegatif, umumnya terjadi pada atom oksigen atau nitrogen, dan suatu atom hidrogen secara kovalen dengan atom elektronegatif lainnya pada molekul yang sama atau molekul lain. Atom hidrogen yang saling berikatan dengan atom elektronegatif kuat seperti oksigen, cenderung memiliki muatan positif kuat sebagian. Namun, atom hidrogen yang secara kovalen berikatan dengan atom karbon yang tidak memiliki sifat elektronegatif tidak ikut dalam pembentukan ikatan hidrogen.

2. Garam Mineral Protoplasma


Jumlah kandungan garam-garam mineral pada berbagai jenis sel dapat bervariasi. Garam-garam mineral tersebut dapat mengalami disosiasi di dalam sel menjadi anion dan kation. Bentuk-bentuk anion dan kation disebut ion. Masing-masing ion dapat terlarut di dalam cairan sel atau berasosiasi secara khusus dengan molekul-molekul lainnya, seperti lipida dan protein.

Secara umum, garam-garam mineral dalam sel mempunyai dua fungsi, yaitu fungsi osmosis dan fungsi khusus lainnya. Dalam menjalankan fungsi osmosisnya, konsentrasi total garam terlarut akan berpengaruh pada pergerakan air melewati membran sel. Sedangkan, fungsi khusus garam mineral berupa peran seluler setiap ion terhadap fungsi dan struktur dari partikel-partikel seluler dan molekul makro.

2.1. Fungsi Garam Mineral


Ada banyak jenis garam mineral yang memiliki fungsi penting bagi kelangsungan aktivitas metabolisme sel, seperti ion K+ dan Na+. Ion tersebut berfungsi dalam mengontrol tekanan osmosis dan keseimbangan asam basa cairan sel. Peningkatan tekanan osmosis dihasilkan dari retensi ion-ion sebagai akibat masuknya air ke dalam sel. Beberapa ion anorganik berfungsi sebagai kofaktor bagi aktivitas enzim, seperti ion magnesium dan ferrum. Fosfat anorganik berperan dalam sintesis ATP yang memproduksi energi kimia bagi proses kehidupan sel dengan cara fosforilasi oksidatif.

Ion-ion kalsium dapat ditemui dalam peredaran darah dan di dalam sel. Di dalam tulang, ion-ion kalsium tersebut akan bergabung dengan ion-ion fosfat dan karbonat untuk membentuk kristalin. Fosfat banyak dijumpai dalam tubuh berasosiasi dalam bentuk nukleotida, fosfolipida, fosfoprotein, dan gula terfosforilasi.

Di dalam sel, banyak juga terkandung berbagai jenis gas yang terkonsentrasi di lingkungan sel atau dihasilkan dari metabolisme sel. Beberapa jenis gas yang berada di atmosfer dapat masuk ke dalam sel, seperti gas oksigen (O2), karbin dioksida (CO2), dan nitrogen (N2). Di dalam sel, oksigen berfungsi sebagai pengoksidasi bahan-bahan makanan. Hasil dari oksidasi makan tersebut akan menghasilkan karbon dioksida selain dari yang berasal dari lingkungan luar sebagai hasil sampingan. CO2 dapat bereaksi dengan air membentuk asam karbonat yang selanjutnya akan mengalami disosiasi membentuk bikarbonat dan ion hidrogen. Reaksinya dapat dituliskan dengan rumus berikut:

C6H12O6 + 6 CO2 -----> 6H2O + 6 CO2 + Energi
CO2 + H2O -----> H2CO3
H2CO3 ---> H+ + HCO3-

Karbon dioksida dalam sel umumnya berada dalam bentuk karbonat atau bikarbonat.

3. Komponen Organik Protoplasma 


Komponen organik pada protoplasma terdiri dari protein, lemak, karbohidrat, serta beberapa komponen khusus lainnya seperti, vitamin, enzim, dan hormon. Di dalam sel, terdapat sekitar 10-20% protein. Protein adalah sejenis molekul makro yang memiliki berat sekitar 10 ribu-10 juta dan lemak sekitar 2-3%. Sedangkan, karbohidrat di dalam sel terdapat sekitar 1% dan biasanya hadir dengan bentuk monosakarida, disakarida, dan oligosakarida. Berikut ini pembahasan dari masing-masing komponen organik tersebut:

3.1. Protein


Protein merupakan molekul makro yang terdiri dari ikatan antara asam-asam a-amino dengan ikatan kovalen, di antara gugus a-karboksil asam amino dengan gugus a-amino dari asam amino lainnya. Ikatan yang terjadi antara asam amino tersebut dinamakan ikatan peptida. Beberapa unit asam amino yang saling terikat dengan ikatan peptida disebut polipeptida. Molekul protein bisa terdiri dari satu atau lebih rantai polipeptida, di mana setiap rantai tersebut dapat terdiri dari ratusan hingga jutaan residu asam amino.

3.1.1. Jenis-jenis Protein


Secara umum, jenis-jenis protein dapat diklasifikasikan berdasakan tingkat kelarutan, bentuk, dan peranan biologisnya. Selain itu, jenis-jenis protein juga dapat ditinjau dari segi fungsinya, yang terdiri dari:
  • Protein enzim, berfungsi untuk mempercepat reaksi-reaksi biokimia
  • Protein transpor, berfungsi untuk mengangkut zat-zat penting
  • Protein struktural, berfungsi dalam pembentukan struktur-struktur biologis
  • Protein pertahanan, berfungsi sebagai pelindung tubuh dari serangan zat-zat asing.

Berdasarkan strukturnya, jenis-jenis protein terdiri dari:
  • Protein serabut, disebut juga protein fibrosa, bentuknya memanjang dengan lipatan sederhana, biasanya dijumpai pada protein struktural.
  • Protein grobular, yaitu protein yang terdiri dari lipatan-lipatan kompleks dengan struktur tertier berbentuk tidak teratur.
Sementara itu, berdasarkan bentuk dan peranan biologisnya, jenis-jenis protein terdiri dari:
  • Protein fibrosa rantai polipeptida, yaitu kelompok rantai yang membelit dengan bentuk heliks atau spiral, yang dihubungkan oleh ikatan disulfida dan hidrogen.
  • Protein grobular rantai polipeptida, yaitu protein yang mengandung banyak lipatan berbelit dengan rasio aksial kurang dari 10, seperti albumin, insulin, globulin plasma, dan kebanyakan enzim.   

3.1.2. Jenis Ikatan Struktur Protein


Umumnya, struktur protein dipertahankan oleh ikatan-ikatan protein. Terdapat 3 jenis ikatan protein yang telah berhasil diidentifikasi hingga saat ini, terdiri dari:
  • Ikatan peptida, yaitu ikatan yang menghubungkan antara atom a-karboksil dari suatu asam amino dengan atom a-nitrogen dari asam amino lainnya. Peptida terbentuk dari dua molekul asam amino disebut dipeptida. Dapat juga terjadi ikatan tripeptida (3 molekul asam amino) dan polipeptida (banyak molekul asam amino)
  • Ikatan disulfida, yaitu ikatan yang terbentuk antara 2 residu sisten yang berhubungan dengan 2 bagian rantai polipeptida melalui residu sistein.
  • Ikatan hidrogen, yaitu ikatan yang terbentuk antara gugus NH- atau OH- dan gugus C=O dalam ikatan peptide atau COO dalam gugus R, contohnya dua peptide mungkin membentuk ikatan hidrogen.
Ikatan protein juga dapat terjadi melalui 2 jenis interaksi, yang terdiri atas interaksi hidrofobik dan interaksi elektrostatik. Interaksi hidrofobik adalah rantai samping nonpolar asam amino netral pada protein yang cenderung bergabung. Sedangkan, interaksi elektrostatik adalah ikatan garam antara gugus yang memiliki muatan berlawanan pada rantai samping asam amino.

3.1.3. Sifat-sifat Protein


Protein memiliki sifat denaturasi, yaitu terjadinya perubahan konformasi alamiah menjadi konformasi yang tidak menentu. Hal ini bisa terjadi karena adanya perubahan pH, suhu, atau terjadinya suatu reaksi dengan senyawa-senyawa lainnya seperti ion logam. Selain itu, protein juga dapat membentuk ion protein dalam air (ion positif atau negatif). Ion positif akan terbentuk jika dalam keadaan asam, sedangkan ion negatif akan terbentuk jika dalam suasana basa.

3.1.3.1. Asam Amino Protein


Protein tersusun atas unit dasar yang terdiri dari asam amino. Asam amino adalah asam karboksilat yang memiliki gugus amino. Asam amino yang dimiliki sebagai komponen protein memiliki gugus NH2 pada atom karbon a dari posisi gugus -COOH. Atom karbon a dari asam amino kecuali glisin masing-masing akan terhubung dengan empat gugus kimia berlainan. Sehingga, atom karbon a memiliki sifat asimetris. Oleh sebab itu, molekul asam amino memiliki dua konfigurasi yaitu D dan L.

Asam amino yang berkonfigurasi L bisa terjadi apabila gugus NH2 di sebelah kiri atom karbon. Sementara itu, jika gugus NH2 berada di sebelah kanan atom karbon, maka asam amino akan berkonfigurasi D. Asam amino diklasifikasikan berdasarkan atas strukturnya dan pembentukannya di dalam tubuh. Berdasarkan strukturnya, asam amino diketegorikan ke dalam 7 kelompok asam amino dengan rantai samping, yaitu:
  • Rantai karbon alifatik, seperti alanin, glisin, valin, isoleusin, dan leusin.
  • Memiliki gugus hidroksil, seperti threonin dan serin
  • Memiliki atom belerang, seperti metionin dan sistein
  • Memiliki gugus asam atau amindanya, seperti aspargin, asam glutamate, asam aspartate, dan glutamine.
  • Memiliki gugus basa, yaitu lisin, arginin, histidine, dan hidroksilisin.
  • Memiliki cincin aromatic, seperti tirosin, fenilalanin, dan triptofan.
  • Memeliki ikatan dengan atom N pada gugus amino, seperti hidroksi prolin dan prolin
Sedangkan, berdasarkan pembentukannya dalam tubuh, asam amino dibedakan menjadi:
  • Asam amino esensial, yaitu asam amino yang tidak dapat dihasilkan oleh tubuh.
  • Asam amino non esensial, yaitu asam amino yang dapat dihasilkan oleh tubuh.

3.2. Karbohidrat 


Karbohidrat adalah molekul yang mengandung substansi yang terdiri dari atom-atom C, H, dan O. Jumlah perbandingan antara molekul H dan O adalah 2:1. Perbandingan ini menyerupai rasio molekul yang dimiliki oleh air (H2O) dan juga ribosa (C6H10O5), glukosa (C6H12O6), dan sukrosa (C12H24O11). Oleh karena itu, kita dapat menuliskan rumus empiris dari karbohidrat yaitu Cn(H2O)n.

Dengan dasar perbandingan ini, awalnya banyak yang berkesimpulan bahwa karbohidrat di dalamnya mengandung air, sehingga digunakan kata karbohidrat yang berasal dari kata karbon dan hidrat (air). Karbohidrat sering disebut juga sebagai sakarida.

Terdapat beberapa senyawa yang mempunyai rumus empiris mirip karbohidrat tetapi bukan karbohidrat, seperti asam asetat (C2H4O2) dan formaldehida (CH2O). Oleh karena itu, senyawa yang termasuk karbohidrat bukan hanya dilihat dari rumus empirisnya saja, tetapi yang terpenting adalah rumus strukturalnya.

Berdasarkan rumus strukturnya, bisa kita lihat bahwa terdapat gugus fungsi penting yang dimiliki oleh molekul karbohidrat. Gugus fungsi inilah yang menentukan sifat dari senyawa. Sementara itu, beradasarkan gugus molekul yang terdapat pada karbohidrat, maka secara kimia karbohidrat dapat didefinisikan sebagai plohidroksialdehid atau polihidroksiketon serta yang dihasilkan pada proses hidrolisis.

Terdapat berbagai contoh senyawa yang masuk ke dalam kelompok karbohidrat memiliki molekul yang bermacam-macam ukurannya, misalnya dari senyawa sederhana dengan berat molekul rendah sampai ke berat molekul tinggi, yang terdiri dari monosakarida, disakarida (oligosakarida), dan polisakarida. Berikut ini pembahasannya satu per satu:

3.2.1. Monosakarida


Monosakarida atau gula sederhana (simple sugars) adalah jenis karbohidrat yang tidak bisa dihidrolisis ke dalam bentuk yang lebih sederhana lagi. Molekul monosakarida yang terdiri dari beberapa atom karbon saja. Monosakarida bisa dikelompokkan berdasarkan kadungan atom karbonnya, yaitu triosa (C3H6O3), tetrosa (C4H8O4), pentosa C5H10O5), dan heksosa atau heptosa (C6H12O6).

Monosakarida adalah jenis karbohidrat yang hanya memiliki satu unit polihidroksialdehida atau keton atau hanya memiliki satu molekul sakarida. Umumnya, monosakarida terkenal memiliki rumus empiris (CH2O)n, di mana n = 3 atau lebih. Monosakarida terdiri dari kerangka dengan rantai karbon berikatan tunggal dan tidak bercabang. Satu di antara atom karbon memiliki ikatan ganda dengan atom oksigen untuk membentuk gugus karbonil, masing-masing atom karbon yang lain berikatan dengan gugus hidroksil. Jika gugus karbonil terletak pada ujung rantai karbon, maka monosakarida tersebut adalah aldosa. Sedangkan, jika gugus karbonil terletak pada posisi yang lain, monosakarida disebut dengan ketosa.

3.2.2. Disakarida


Disakarida adalah jenis karbohidrat yang terdiri atas dua monosakarida yang saling terikat secara kovalen dengan sesamanya. Ikatan kimia pada kebanyakan disakarida yang menggabungkan kedua unit monosakarida tersebut dinamakan ikatan glikosida, dan akan terbentuk saat gugus hidroksil pada salah satu gula bereaksi dengan karbon pada gula yang kedua.
Disakarida memproduksi dua molekul monosakarida yang sama atau bisa juga berbeda jika mengalami hidrolisis, seperti maltose (glukosa + glukosa), laktosa (glukosa + galaktosa), dan sukrosa (glukosa + fruktosa). Oligosakarida akan memproduksi 3-6 molekul monosakarida jika mengalami hidrolisis, misalnya maltotriosa (3 residu glukosa), rafinosa (galaktosa + galaktosa + fruktosa), dan stakiosa (galaktosa + glukosa + fruktosa).

3.2.3. Polisakarida


Polisakarida (glikan) adalah jenis karbohidat yang tersusun dari unit-unit gula yang panjang. Polisakarida terbagi ke dalam dua kelompok utama yaitu homopolisakarida dan heteropolisakarida. Homopolisakarida yang melewati proses hidrolisis akan menghasilkan satu jenis monosakarida. Sementara itu, heteropolisakarida yang mengalami hidrolisis sempurna akan menghasilkan lebih dari satu jenis monosakarida.

Perbedaan Protoplasma dengan Sitoplasma


Sekilas, kedua istilah ini hampir sama, namun terdapat perbedaan tegas di antara keduanya, yaitu:
  • Sitoplasma merupakan bagian dari organel protoplasma
  • Berbeda dengan sitoplasma, protoplasma sering dianggap sebagai dasar fisika bagi kehidupan
  • Protoplasma termasuk organel inti, sedangkan sitoplasma tidak
  • Protoplasma terdiri atas inti, sitoplasma dan membran plasma. Sedangkan, sitoplasma terdiri dari banyak organel tetapi inti tidak termasuk.
Demikianlah penjelasan tentang Protoplasma: Fungsi dan Komponen Penyusun (Lengkap), semoga bermanfaat.


EmoticonEmoticon